Kamis, November 20, 2014

Serangan Mongol ke Baghdad: Runtuhnya Abbasiyah


Siapakah Orang-orang Mongol?
Dalam khazanah sejarah dunia, tercatat bahwasanya bangsa Mongol mulai muncul pada akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13 M. Pada mulanya, orang-orang Mongol adalah sekumpulan masyarakat nomad yang mendiami daerah hutan Siberia dan Mongolia luar. Mereka menempati daerah antara gurun pasir Gobi dan danau Baikal. Mereka hidup sebagai pengembara dan tinggal di perkemahan.
Kehidupan orang-orang Mongol dikenal dengan kehidupan bar-bar; mereka tidak mengenal kebersihan dan memakan semua daging binatang. Mereka menyembah matahari di saat terbit dan ada pula yang menganut cabang Nestoria dan Sammaniah yang mempertahankan kepercayaan kuno terhadap kesucian berbagai peristiwa dan benda alam. Sungai, mata air, Guntur , api, dll mereka anggap sebagai ruh-ruh suci, sementara kekuatan teritngginya adalah Langit Biru atau Khokh Tenger. Di sisi lain orang-orang Mongol juga dikenal pemberani, sabar, dan kuat menahan rasa sakit ketika diintimidasi oleh musuh.
Sama seperti orang-orang Arab, Mongol pun menganut paham tribalisme (kesukuan) yang kental. Mereka sangat patuh dan menjunjung tinggi kepala suku mereka.
Para sejarawan Arab sering menyebut mereka dengan orang-orang Tartar, memang demikianlah, orang-orang Mongol ini memang satu anak rumpun dengan bangsa Tartar.

Minggu, Maret 23, 2014

Puasa dalam Perspektif Hikmah

GAGASAN, SOLOPOS, SABTU PAHING, 17 NOVEMBER 2001

Oleh: Tsalis Muttaqin

Imam Ghozali, seorang ulama ahli dalam bidang fiqh, filsafat dan tasawuf yang pernah dimiliki oleh dunia Islam, dalam bukunya Ihya Ulumuddin menulis bahwa ada tiga klasifikasi dalam puasa, yaitu puasa umum, puasa khusus dan puasa di atas khusus.

Puasa umum adalah tingkatan puasa yang paling rendah derajatnya, yaitu sekadar menahan diri dari makan, minum,  jima’ (bersetubuh) dan perkara yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa khusus, di samping menahan hal di atas, juga memelihara seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat dan tercela. Sedangkan puasa di atas khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya dari memikirkan segala sesuatu yang selain Allah.

Puasa pada tingkatan ketiga adalah puasa para nabi-nabi, shiddiqin (orang-orang yang sangat benar) dan muqarrabin (orang-orang yang dekat kepada Allah), ialah tingkatan puasa yang sangat sulit untuk kita capai – untuk mengatakan hampir tidak mungkin. Sedangkan puasa yang ada di tingkatan kedua adalah puasanya orang-orang yang saleh. Pada tingkatan inilah yang seharusnya – dan mungkin – kita tuju untuk mencapainya.
Selanjutnya, jelas Imam Ghozali, ada enam hal yang harus kita perhatikan untuk mencapai kesempurnaan puasa pada tingkatan kedua ini.

Rabu, Januari 29, 2014

UMAT ISLAM DI TENGAH PUSARAN ARUS GLOBALISASI


Oleh: Tsalis Muttaqin


A. Pendahuluan
Manusia saat ini masuk dalam dunia transformasi,yang mempengaruhi hampir setiap aspek dari apa yang mereka lakukan. Entah baik atau buruk, manusia di dorong masuk ke dalam tatanan global yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapa pun, tetapi yang dampaknya dapat dirasakan oleh semua umat manusia.[1]
Globalisasi barangkali bukanlah kata yang baru untuk diperbincangkan saat ini. Namun demikian, tidak seorang pun yang ingin memahami prospek kehidupan manusia di abad ini yang dapat mengabaikannya. Tidak ada satu pun negara yang tidak membicarakan isu globalisasi secara intensif. Di Prancis, kata itu disebut dengan mondialisation. Di Spanyol dan Amerika Latin, disebut globalizatión. Orang Jerman menyebutnya dengan globalisierung.[2] Sementara orang Arab menyebutnya dengn al-`awlamah.
Mengglobalnya istilah tersebut menjadi bukti perkembangan fenomena yang diacunya. Setiap guru bisnis membicarakannya. Pidato politik dirasa tidak lengkap tanpa menyebutkannya. Padahal, hingga akhir 1980-an, istilah tersebut hampir tidak pernah digunakan, baik dalam literatur akademis maupun dalam bahasa sehari-hari. Istilah itu datang entah dari mana, namun hampir ada di mana-mana.[3]
Dengan popularitasnya yang muncul tiba-tiba, tidak perlu terkejut jika makna gagasan itu tidak selalu jelas, atau jika reaksi intelektual dibangun untuk melawannya.  Globalisasi berkaitan dengan tesis bahwa kita semua sekarang hidup dalam satu dunia.[4]

Entri Populer